PHVA (POPULATION AND HABITAT VIABILITY ASSESMENT) ORANGUTAN 2016

Rangkaian kegiatan analisis kelangsungan hidup populasi dan habitat (Population and Habitat Viability Analysis/ PHVA) orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus),  dimulai sejak 2015, dan ditutup dengan lokakarya pada bulan Mei 2016 di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. 

 

Setelah melalui beberapa proses penyutingan, dokumen hasil analisis ini diterbitkan pada 2019. Kemudian, hasil dari PHVA Orangutan 2016 digunakan sebagai acuan utama dalam penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan (SRAK) 2019-2029, sebagai pengganti SRAK 2007-2017 yang telah berakhir. 

 

Rangkaian kegiatan analisis ini terlaksana atas kerjasama Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dengan Forum Orangutan Indonesia (FORINA), Orangutan Foundation-United Kingdom, IUCN SSC Primate Specialist Group, IUCN SSC Conservation Breeding Specialist Group, juga didukung oleh lembaga-lembaga dan para praktisi-pemerhati konservasi orangutan.

Berdasarkan hasil PHVA Orangutan, saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimantan, Sabah dan Serawak) di habitat seluas 17.460.600 hektar. Populasi tersebut tersebar ke dalam 52 metapopulasi dan hanya 38% di antaranya diprediksi akan lestari (viable) dalam 100-500 tahun ke depan.

 

Sejak dikaji pada PHVA 2004 yang lalu, kajian tentang populasi dan distribusi orangutan sumatera (Pongo abelii)  yang dilakukan semakin berkembang dan lebih rinci. Popoulasi dan distribusi orangutan sumatera dari yang semula diprediksi ada 6.667 individu,  tersebar di habitat seluas 703.100 hektar pada batas ketinggian di bawah 800 m dpl, saat ini populasinya diperkirakan ada 14.470 individu dan menempati habitat seluas 2.155.692 hektar. Saat ini orangutan sumatera dapat dijumpai di habitat sampai dengan ketinggian 1.500 m dpl, tersebar di 10 metapopulasi . Dari 10 metapopulasi tersebut, hanya dua populasi di antaranya yang diprediksi akan lestari (viable) dalam waktu 100-500 tahun kedepan, itupun di lokasi pelepasliaran di Jantho (Aceh Tenggara) dan Bukit Tigapuluh (Jambi). 

 

Namun demikian,  fakta ini sama sekali tidak mengindikasikan terjadinya peningkatan populasi. Karena,  jika dilihat dari kepadatan populasinya, jumlahnya justru berkurang dari 0.95 individu/Km2 menjadi 0.67 individu/Km2.

 

Lain di Sumatera lain pula di Borneo.  Saat ini orangutan borneo (Pongo pygmaeus) diperkirakan terdapat 57.350 individu, menempati habitat seluas 16.013.600 hektar yang tersebar di 42 kantong populasi. Sekitar 18 individu di antaranya diprediksi akan lestari dalam waktu 100-500 tahun ke depan. Kondisi ini memperbaharui fakta 10 tahun lalu yang menyebutkan bahwa populasi orangutan borneo diprediksi sekitar 54.817 individu pada habitat seluas 8.195.000 hektar . Dari hasil analisis ini terlihat adanya kecenderungan penurunan populasi dari 0.45-0.76 individu/Km2 menjadi 0.13-0.47 individu/Km2.

Selain itu, terdapat juga populasi orangutan borneo yang hidup di satu bentang alam yang habitatnya saling terhubung dengan Malaysia, yaitu populasi dari sub-jenis Pongo pygmaeus pygmaeus yang ada di metapopulasi Taman Nasional Betung Kerihun - Batang Ai-Lanjak Entimau, Taman Nasional Klingkang Range-Sintang Utara serta Taman Nasional Bungoh - Hutan Lindung Penrisen. Untuk itu, perlu adanya kerjasama konservasi orangutan dan habitatnya antara Indonesia dan Malaysia untuk melindungi populasi ini. 

Berdasarkan kajian kelangsungan hidup populasi (Population Viability Analysis/PVA), angka minimum populasi orangutan kalimantan yang dapat bertahan dalam suatu habitat adalah 200 individu dengan kemungkinan kepunahan kurang dari 1% dalam 100 tahun, kurang dari 10% dalam kurun waktu 500 tahun. Dan, dibutuhkan 500 individu untuk menjaga kualitas dan variasi genetika.  Dari segi habitat, banyak metapopulasi orangutan kalimantan yang terfragmentasi dan membutuhkan koridor agar terhubung dengan metapopulasi lainnya.

Kondisi populasi orangutan yang menurun ini menunjukkan peningkatan ancaman kelestarian orangutan dan habitatnya, sebagai akibat dari konversi hutan yang merupakan habitat orangutan. Selain itu, tingginya frekuensi aktivitas penyelamatan (rescue) dan konfiskasi juga menambah deret ancaman terhadap kelestarian orangutan. Oleh karena itu, perlindungan kawasan konservasi kebutuhan serius disamping juga penerapan praktik-praktik pengelolaan terbaik (best management practices) di dalam wilayah konsesi yang menjadi habitat orangutan.



Final Report: Orangutan Population and Habitat Viability Assessment 2016 dapat didowload disini